Masterplan Pengembangan Desa Ekologis Tangguh Kabupaten Lombok Utara

Submitted by Gendewa Tunas Rancak | published 18th Feb 2014 | last updated 26th Nov 2014
5303a6eea292ddelta-api-edited-1 1 - climate adaptation.

Latar Belakang

Indonesia merupakan negara kepulauan dengan jumlah pulau yang mencapai 13.446 dan panjang garis pantai kurang lebih 81.000. Indonesia memiliki 35 Provinsi dan lebih dari 400 kabupaten berada di 5 pulau (daratan)  besar (Sumatra, Kalimantan, Jawa, Sulawesi, dan Papua) dan sebagian besar lainnya berada di pulau-pulau yang lebih kecil.

Modernisasi dan kemajuan zaman adalah suatu keniscayaan dan telah memberikan kontribusi bagi masyarakat. Namun jika tidak disertai dengan tindakan yang bijak, maka sangat dimungkinkan akan menjadi satu masalah baru dalam masyarakat kita, khususnya di daerah perdesaan, pinggiran perkotaan dan kawasan yang memiliki nilai alam. Masyarakat desa (masyarakat adat/lokal) telah memiliki sistem tersendiri dalam membangun dan mengelola kawasan alam dan ruang hidupnya.  Yaitu dengan mengembangkan suatu kearifan turun temurun, yang berwujud pengetahuan atau ide, peralatan, dipadukan dengan norma adat, nilai budaya, dan aktivitas pengelolaan lingkungan guna mencukupi kebutuhan hidupnya secara padu dan berkelnjutan.

Yang terjadi hari ini, sungguh disayangkan bahwa pembangunan telah berdampak samping  tergerusnya kearifan lokal dihasilkan oleh masyarakat atau warga kepulauan. Sistem formal yang dikembangkan oleh pemerintah ternyata justru mengubah, bahkan menyeragamkan sistem lokal yang ada. Perubahan ini dikhawatirkan akan dan telah merubah karakter warga desa menjadi karakter yang oportunis dan eksploitatif bahkan destruktif terhadap alam, karena tuntutan pemenuhan kebutuhan hidup yang serba material.

Ditilik dari kerentanan terhadap perubahan iklim dan bencana, maka kawasan pesisir merupakan daerah yang memiliki resiko lebih besar dibanding dengan daratan besar atau pedalaman benua . Oleh karena pertimbangan hal ini, Kementerian Kelautan Perikanan (KKP) menggagas dan mengembangkan Program Pengembangan Desa Pesisir Tangguh (PDPT). Sebagus apapun gagasan dan program ini, jika tidak dilakukan secara matang, tidak menutup kemungkinan akan terjadi hal yang sama dengan gagasan besar lainnya, yakni menjadi monumen nama tanpa karya  nyata yang berhasilguna dan termanfaatkan secara berkelanjutan. Sejalan dengan konsep  PDPT dan sejenisnya yang telah digagas oleh Pemerintah, gagasan lain juga ditumbuhkembangkan di lapangan.

Sejumlah 8 provinsi kepulauan (Bali, NTB, NTT, Maluku, Maluku Utara, Kepri, Babel, dan Sulut) di Indonesia memiliki ekosistem dengan satuan sistem lokal yang unik. Akan tetapi disebabkan ketersediaan pangan, air dan energi  tidak merata di antara gugus pulau yang satu dengan yang lainnya, bertumbuhkembangnya kearifan lokal yang saling bergantung antara satu pulai dengan yang lain. Sebenarnya, kekayaan ragam hayati yang dimiliki bisa menjadi alternatif sumber pangan dan matapencaharian, terlebih di kawasan lautannya. Namun harus diakui selain keterbatasan sumber daya, wilayah ini juga sesungguhnya memiliki kerentanan yang tinggi, terlebih jika dikaitkan dengan perubahan iklim dan bencana. Karenanya upaya yang konstruktif untuk menyikapi hal ini pun dilakukan.

Pulau Lombok, walaupun menurut UU No 27 tahun 2007 tidak terkategorikan sebagai pulau kecil, namun menurut United Nation Convention on the law of Sea (UNCLOS) termasuk dalam kategori pulau kecil karena luasnya kurang dari 10.000 km2. Gugusan pulau ini memiliki desa dan dusun kepulauan , seperti Desa Gili Matra (KLU) dan Gili Gede (Kabupaten Lombok Barat). Sebagaian pantai  bertautan dengan laut lepas dan sebagaian bentukan pantai berbentuk teluk dan tanjung merupakan potensi yang belum tergarap secara optimal, baik sebagai sumber pangan, matapencaharian, maupun energi. Sebagian telah tergarap sebagai kawasan wisata, namun belum memberikan manfaat yang memadai bagi masyarakat. Sebagian besar masyarakat miskin justru berada di kawasan pesisir, termasuk di kawasan wisata ini. Bentang lanskap daratan yang terbatas (telah mengalami degradasi dan deforestasi) dengan bentang laut lepas (seascape) sangat mempengaruhi iklim mikro. Perubahan iklim, telah menyebabkan perubahan dan dampak signifikan, dengan cuaca yang tidak bisa lagi diprediksi.


Pendekatan

Pembelajaran yang dilakukan di Lombok, khususnya di Kabupaten Lombok Utara (KLU), telah melahirkan konsep Eco-Climate Village (ECV) yang diharapkan dapat menjawab persoalan, kebutuhan, hak dan kemampuan berpengalaman warga pesisir dalam menghadapi perubahan iklim.

Berangkat dari kedua konsep ini (ECV dan PDPT), maka lahirlah sebuah formula baru berupa Delta Api (Desa Ekologis Tangguh dan Adaptif Perubahan Iklim). Formula ini merupakan sintesa dan scalling up konsep yang telah disebutkan dan dibangun di 3 desa dalam satu kesatuan socio ecosystem.

Desa Gondang (Spesifikasi di Dusun Lekok), Desa Medana (Jambianom dan Teluk Dalam), dan Desa Gili indah (khsusunya Gili Air) dipilih sebagai role model pengembangan Delta Api di wilayah Kabupaten Lombok Utara. Ketiga desa ini memiliki karakteristik yang unik dan berbeda, namun selaras dan masih dalam satuan socio-ecosystem sehingga potensial untuk tersinergi satu dengan lainnya.

Model yang sedang dan akan dikembangkan ini dikarenakan kawasan di yang menghimpun 3 desa ini dianggap memiliki karakteristik yang terbiaskan oleh model pembangunan dan juga memiliki resiko tinggi terhadap perubahan iklim. Namun juga memiliki potensi untuk pembelajaran baik dalam pengelolaan ekologi, pemberdayaan ekonomi maupun penguatan social-budaya dan kebijakan.

Pemuda merupakan aspek penting pembangunan bangsa yang sekaligus menjadi motor utama dari pengembangan konsep Delta Api. Sebanyak 7 pemuda dari masing-masing Desa di Kawasan Delta Api diharapkan akan menjadi motor utama penggerak laju pembaharuan ini.

Maka dari itu, konsep ini juga disinergikan dengan penguatan kemampuan, peran dan partisipasi pemuda di masing-masing desa. Dari sini, diharapankan, Delta Api dapat lebih terjamin keberlanjutannya. Jika ini dilakukan secara sistemik dan melembaga, maka ketika di-scaling up di kawasan lainnya, diharapkan dapat tumbuh kembang hingga 5.000 pemimpin muda di wilayah Sunda Kecil Maluku, Capaian ini menjadi tolak ukur keberhasilan hasil kerja Delta Api pada tahun 2019.

Di dalam prosesnya, konsep ini juga dapat disinergikan dengan analisa kerentanan terhadap dampak perubahan iklim dengan metode I-CATCH (Indonesia-Climate Adaptation Tools for Coastal Habitat) yang telah dilakukan di 25 desa di Pulau Lombok, di mana 10 Desa berada di wilayah Kabupaten Lombok Utara, dan merupakan lokus kawasan Delta Api. Sebelumnya, tools ini disesusaikan fungsi dan peruntukannya sehinga lebih sesuai dengan konsep Delta Api.

Tujuan

Output:

Master Plan Kawasan dan Perdesaan yang berperspektif kepulauan dan adaptif perubahan iklim/kebencanaan yang bisa dijadikan acuan bersama; pengeimplementasian program yang sistemik dan kolaboratif; Kepemimpinan Muda (the Champions) yang berkemampuan sesuai karakteristik (sosiologik, ekologik dan ekonomik) kepulauan.

Outcome:

Pengelolaan nilai alam (nilai alam dipergunakan untuk menggantikan SDA) dan ruang hidup Kawasan perdesaan dapat menjamin keselamatan warga, daya pulih produktifitas warga dan daya pulih jasa lingkungan secara berkelanjutan. Utamanya dalam bidang pangan, air, energy dan matapencaharian untuk pemenuhan pangan dan sandang; Kepemimpinan yang berkemampuan untuk melakukan ‘Self Organizing Capability’ dalam membangun kemandirian warga dan keberlanjutan kawasan perdesaan kepulauan.